Saat pelajaran berlangsung, tiba-tiba di kelompok III ada anak yang menagis sehingga pembelajaran berhenti sejenak. Pak guru menanyakan mengapa Iwan menangis? Jawabannya dipukul, kebetulan yang memukul anak putri, sebut saja Ani. Oleh Pak guru ditanya "kenapa?"
Jawab:
Iwan : aku dipukul!
Ani : itu sih dibilangin tidak mendengar ya dipukul
Hari lain Ani juga suka/sering memukul temannya, katanya lihat power ranggers (film kartun). Bila ditanya ingin seperti power rangers. Dari kasus di atas bisa diambil pengertian bahwa imitasi yaitu peniruan perilaku anak pada media yang dilihatnya dan diaplikasikannya dalam lingkungan sosial (temannya).
Sebab-sebab:
- kondisi sosial orang tua yang mendukung
- lingkungan sosial budaya dan gaya hidup
- kurangnya bimbingan dan arahan dari orang tua
- media mania
- pengaruh teman sebaya
- belum mempunyai konsep diri
- iseng
- hoby
Solusi:
- pemilihan lingkungan dan gaya hidup yang tepat
- pembatasan penggunaan fasilitas dari orang tua
- adanya time schedule daily activity
- pemilihan media informasi yang tepat
- pemilihan teman sebaya dan pergaulan yang positif
- pembentukan penanaman konsep diri
- komunikasi lebih ke arah diskusi
- adanya arahan dan bimbingan dari orang-orang sekitar
Problem Solving. Mungkin itu harapan dari kami. Blog ini merupakan resume dari materi-materi CDP yang disusun oleh Tim CDP LPP Al Irsyad Purwokerto
Saturday, January 17, 2009
Wednesday, December 24, 2008
Kekerasan
Pagi ini, sudah ada tiga anak yang menangis karena perbuatan satu anak yang memang sudah terkenal sebagai "trouble maker" di kelas tersebut. Bebrapa guru juga mengeluhkan karena sikap si anak yang tidak pernah patuh dan selalu membuat ribut ketika pelajaran. Anak yang memang terkenal dengan pembuat masalah tersebut memang sering membuat temannya terluka seperti memukul, menggigit dan menendang. Kekerasan atau agresif sering dilakukan oleh anak-anak yang mempunyai temperamen tinggi, belum bisa mengontrol kestabilan emosinya.
Sebab-sebab:
- lingkungan sosial yang rusak
- keluarga broken home
- merasa "lebih" dari temannya
- pola asuh yang salah
- gangguan emosi dan perilaku
- pengaruh media
- bentuk kompensasi dari kekurangan diri
Solusi:
- pemilihan lingkungan yang tepat
- perbaiki kualitas hubungan dalam keluarga
- pemberian contoh atau model figur yang baik terutama orang tua
- tinjau kembali penanaman pola asuh yang sudah diterapkan
- mengikutkan anak dalam kegiatan di rumah dan di luar rumah
- bimbingan atau nasihat yang berhubungan dengan emosi
- selektif memilih media
- bangun dan bentuk karakteristik pada anak
Sebab-sebab:
- lingkungan sosial yang rusak
- keluarga broken home
- merasa "lebih" dari temannya
- pola asuh yang salah
- gangguan emosi dan perilaku
- pengaruh media
- bentuk kompensasi dari kekurangan diri
Solusi:
- pemilihan lingkungan yang tepat
- perbaiki kualitas hubungan dalam keluarga
- pemberian contoh atau model figur yang baik terutama orang tua
- tinjau kembali penanaman pola asuh yang sudah diterapkan
- mengikutkan anak dalam kegiatan di rumah dan di luar rumah
- bimbingan atau nasihat yang berhubungan dengan emosi
- selektif memilih media
- bangun dan bentuk karakteristik pada anak
Pornografi dan Pornoaksi

"Bu guru - bu guru, si Fulan membawa gambar tidak sopan" teriak beberapa anak dari bangku belakang, yang akhirnya membuat ribut suasana di dalam kelas ketika sedang jam pelajaran. Tetapi dengan sangat bijaksana bu guru menenangkan kondisi kelas kemudian memberikan tugas. Setelah itu barulah menghampiri si Fulan untuk menyelesaikan permasalahan tadi.
Sebab-sebab:
- lingkungan rumah yang kurang kondusif/broken home
- pola asuh orang tua yang tidak tepat
- kondisi sosial ekonomi orang tua
- kurang selektif terhadap media
- bentuk kompensasi untuk mencari perhatian orang di sekitarnya
- kurangnya informasi/wawasan tentang peran diri, pendidikan seks dini
- rasa ingin tahu dan coba-coba yang tinggi
- keisengan antar teman sebaya
- gaya hidup hedonis
Solusi:
- perbaiki kualitas hubungan/komunikasi keluarga
- adanya pendampingan, pengawasan orang tua ketika anak-anak menonton tv, film, baca majalah dll
- memberikan banyak kegiatan positif
- pemberian terapi dan konsultasi dengan ahlinya
- pemilihan teman yang tepat
- pemilihan kualitas lingkunagn hidup dan perbaikan gaya hidup yang sehat
- merubah bentuk pola asuh orang tua yang kurang tepat
- beri perhatian positif
- memantau tempat aktivitas anak
- adanya reward dan punishmen
Subscribe to:
Comments (Atom)